Fenomena Quiet Quitting—melakukan pekerjaan hanya sebatas kewajiban minimum tanpa inisiatif, semangat, atau keterlibatan emosional—kini marak terjadi, terutama di kalangan profesional muda. Di sektor pendidikan, hal ini sangat berbahaya: Guru yang mengalami quiet quitting akan menghasilkan output pengajaran yang minim gairah, berdampak langsung pada kualitas dan pembentukan karakter siswa. Permasalahan hari ini adalah bagaimana lembaga pendidikan Islam dapat menjaga api Dedikasi (Keikhlasan) dan Tanggung Jawab (Amanah) pada calon pendidik di tengah tuntutan kerja yang tinggi.
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Azhar Pekanbaru, melalui Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dan Pendidikan Agama Islam (PAI), melihat ini sebagai tantangan Tarbiyah moral. Kami berkomitmen menghasilkan lulusan yang memiliki Etos Kerja Islami yang Kuat, menganggap profesi guru sebagai Misi Spiritual (Sense of Purpose) dan ladang pahala, jauh melampaui sekadar gaji bulanan.
Tiga Strategi Kunci STAI Al-Azhar Membangun Etos Kerja Anti-Quiet Quitting
STAI Al-Azhar melatih calon pendidik untuk menginternalisasi nilai-nilai Islami ke dalam manajemen kinerja:
1. Mengubah Profesi Guru Menjadi Jihad Fi Sabilillah
Pendidikan harus dilihat sebagai investasi akhirat, bukan hanya kontrak kerja.
- Konsep Amal Shaleh dalam Kinerja: Mahasiswa dilatih untuk menginternalisasi konsep bahwa setiap jam mengajar, setiap materi yang dipersiapkan, dan setiap masalah siswa yang diselesaikan adalah bagian dari Amal Shaleh yang bernilai tinggi di sisi Allah. Hal ini adalah penangkal utama hilangnya motivasi.
- Manajemen Burnout Islami: Guru PAI dididik untuk mengenali tanda-tanda burnout (kelelahan mental) dan mengelolanya melalui Ibadah, Tawakkal, dan Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa), yang terbukti efektif mengembalikan energi spiritual.
2. Kepemimpinan Pendidikan Berbasis Amanah dan Mas’uliyah
Lulusan MPI didorong untuk menciptakan budaya kerja di sekolah yang menumbuhkan tanggung jawab.
- Audit Kinerja Berbasis Amanah: Lulusan MPI dilatih merancang sistem penilaian kinerja (evaluasi guru) yang tidak hanya mengukur kuantitas (kehadiran), tetapi juga kualitas output dan inisiatif (Amanah dan Mas’uliyah).
- Membangun Lingkungan Suportif: Calon manajer madrasah dibekali skill untuk menciptakan lingkungan kerja yang adil, apresiatif, dan suportif, di mana guru merasa dihargai, sehingga keinginan untuk quiet quitting berkurang.
3. Integrasi Skill Digital untuk Efisiensi Kerja
Quiet Quitting sering dipicu oleh kelelahan dan birokrasi yang membebani. Teknologi dapat meringankannya.
- Efisiensi Administrasi: Guru PAI dilatih menggunakan tools digital (misalnya, Google Workspace atau LMS) untuk mengotomatisasi tugas-tugas administratif rutin (penilaian, absensi, dokumentasi), sehingga energi guru dapat dialokasikan lebih banyak untuk interaksi langsung dan pengembangan siswa.
- Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL): Mengajarkan metodologi yang menantang (seperti Project-Based Learning) untuk menjaga engagement guru dan siswa, melawan rutinitas yang membosankan dan mematikan inisiatif.
Penutup: STAI Al-Azhar, Mendidik dengan Hati dan Dedikasi Penuh
Memilih STAI Al-Azhar Pekanbaru berarti memilih menjadi Pendidik yang Berdedikasi dan Berintegritas. Lulusan kami siap menghadapi tantangan psikologi kerja modern, memastikan bahwa mereka memasuki ruang kelas dengan semangat Mujahid (pejuang), memberikan yang terbaik bagi generasi penerus, dan mengakhiri budaya quiet quitting di sekolah Islam.

Leave a Reply